Sunday, November 9, 2014

Ketika cinta tak bertuan

Created By Nanang_Grande

Hujan tak henti-hentinya turun. Sore itu di sebuah rumah kecil berteraskan tanah, termenung sesosok wanita yang tengah memandangi riakan air yang berjatuhan di tanah. Tak terlihat senyum di bibir wanita itu. Mmmmm... cantik aku bilang. Tapi tak tersirat sedikit pun tuk ku berusaha menyentuh hatinya. (Ya iyalah... tuaan dia kaliii).

Mba Danti... Iya, Mbah Sari yang tinggal di rumah itu biasa memangilnya dengan nama itu. Tak terpikir olehku untuk terlalu jauh menanyakan siapa, apa, dan darimana dia. Yang jelas, Mba Danti kali ini sedang membutuhkan suasana yang tenang untuk bisa melupakan kenangan-kenangan pahit yang mungkin ia lalui dulu. Sesekali ia berusaha menutupi segala kegalauan yang ia alami kepada siapa saja yang lewat. Namun, tak elak kalau ia selalu merenung dan terus merenung, pastilah ada sesuatu yang ia rasakan begitu berat sehingga ia mau tinggal di sebuah gubug kecil, jauh dari bayanganku ada seorang mahasiswi kota, pakaian bermerek, apalagi membawa mobil, mau-maunya tinggal di tempat seperti itu.

“Pagi, mba...” suaraku mengagetkannya. Hujan semakin besar, aku hanya sekedar menumpang berteduh karena hujan yang tiba-tiba deras hingga dan aku lupa membawa payung.
“oh..oh... pagi??” sahut Mba Danti keheranan. Setidaknya awalan yang santai dan menggelitik bisa membuat hati mba Danti tak kalut lagi.
“hehe... lagian Mba sore gini kok masih di luar?? Tar di culik Kalong lho...!!” Ujarku memecah konsentrasi Mba Danti yang masih keheranan dengan keberanianku menghampirinya.
“apa tuh Kalong???” tanya Mba Danti penasaran. “Kalong tuh adanya cuma di desa, mba. Di kota mana ada. Itu lho, kelelawar gede yang suka nyulik cewe kalo sore-sore kayak gini masih di luar, belum masuk rumah.” jawabku berusaha mengajaknya tertawa.

Aneh aku rasakan, Mba Danti tidak kelihatan judes atau cuek. Namun celotehan humorku tidak membuatnya tertawa bahkan tersenyum. Yah, tak terasa hari semakin sore, namun hujan tak henti-hentinya turun. Akupun pamit meninggalkan Mba Danti sendirian. Sebentar lagi maghrib, aku harus segera sampai ke masjid untuk bisa mengikuti sholat berjamaah. Eitz..Jangan heran kalau aku sekarang lebih sering ke masjid, yah karena tuntutan program KKN yang diatur oleh UU perKKNan di kelompokku. Jadi di peraturan itu setiap mahasiswa diwajibkan untuk sholat di masjid yang setelahnya diisi ceramah-ceramah sekitar dunia pendidikan dan dunia pekerjaan. Sebentar.... kayaknya penulis juga mengiyakan nih kalo itu juga sering dilakukan walaupun di luar KKN...hehehe

Lanjut cerita... akupun menjembreng (red, bahasa cilacap) kain sarungku yang aku ikatkan di pinggangku, aku pakai untuk menutupi kepalaku dari rintiknya hujan. Sesaat aku melangkahkan kakiku terdengar suara memanggil.

“Nang... Mau ngga Mas Nanang nungguin aku ambil mukena??? Aku mau ikut”. Suara lirih merayu yang yang tak lain itu adalah suara Mba Danti. Aku heran kenapa ia sampai tahu namaku. Mmmm.... mungkin memang dia pernah bertanya pada Mbah Sari tentang aku. Secara aku yang sering ngisi pengajian di masjid yang diikuti ibu-ibu PKK, kebetulan memang Mbah Sari masih aktif dalam organisasi itu.
“Oh, he-eh...”, sahutku menganggukkan kepala sambil menoleh ke wajah layu Mba Danti. Mba Danti pun masuk mengambil mukena dan payung miliknya dan segera menghampiriku tuk menuju ke masjid yang tak jauh dari rumah itu.

Hujan, Petir, suara geluduk seraya menghanyutkanku kedalam suasana sore itu.
Hari-hari berlalu, tak terasa waktu perpisahan KKN sebentar lagi. Aku pun berinisiatif untuk mengajak Mba Danti mengisi acara perpisahan nanti dengan nyanyi bareng teman-teman sekelompok KKN di desa Srati Kecamatan Gombong Jawa Tengah, desa yang aku tempati selama sebulan ini. Mba Danti kan pernah kuliah, dan sekarang sudah lagi jadi dokter, mungkin ada ide-ide yang bisa ditambahkan dalam acara perpisahan nanti. Seperti biasanya aku menunggu datangnya sore untuk bisa mengajak Mba Danti ke masjid. Hari masih siang, namun Aku tak sabar bergegas menuju rumah Mbah Sari yang selama ini ditinggali Mba Danti.

“Mba Danti ada, Mbah??”, tanyaku kepada sesosok nenek tua yang tak lain adalah Mbah Sari, pemilik rumah itu. Sepertinya ada yang aneh, tak kulihat seperti biasanya mobil sedan merah ber-plat F ada di samping rumah Mbah Sari.
“Oh, Mba Danti tadi pamit, Cah Bagus”. Jawab mbah seolah mengiyakan keanehan perasaanku tadi. “Tapi bentar ya, Den. Ada titipan buat Aden”, lanjut Mbah yang mengherankanku. Tadi mangggil aku Cah Bagus, sekarang malah Aden. Hahaha.... lucu aja, jadi ingat seorang teman yang di panggil Aden karena berasal dari Baturaden. Aden, singkatan dari Anak Baturaden, ga pernah makan sarden, bisanya Cuma nyinden. Hehehe.... piss

Tak lama kemudian, “Upz...” aku terdiam heran, melihat sebuah bingkisan dan sepucuk surat bertuliskan “To : Nanang Jelek”. Ugh, tak habis pikir kenapa ini terjadi begitu cepat. Selama ini aku dekat dengan Mba Danti karena aku selalu melihat Mba Danti yang selalu termenung di sore hari ketika ku menuju ke masjid. Aku heran melihat wanita yang seharusnya bekerja menjadi Dokter dan tinggal di kota, malah memilih untuk tinggal di sebuah rumah kecil di desa yang sepi ini.

“Dulu Mba Danti juga KKN di sini den, tinggalnya ya di rumah mbah ini” tukas mbah mengagetkanku ketika ku berusaha membuka isi surat itu.
“Katanya kalo Aden masih pengen ketemu sama Mba Danti, datang aja ke rumahnya di Bogor...”, lanjut mbah sembari mempersilahkanku untuk duduk di kursi yang biasa Mba Danti duduki.


Pertama aku sedih...lalu bimbang...lalu ragu...
Sekiranya kamu tahu apa isi hatiku
Tak kuasa ku menahan tangis di setiap tawaku
Tak ada yang menarik di dirimu
Namun hati ini tak henti-hentinya mengisyaratkan tuk mengatakan “Iya”
iya, aku telah menemukan hidup dalam diriku
Adalah kamu yang menuntunku menemukan jalan itu
karena kepolosan dan kelembutanmu
Dan aku sadar, kebahagiaanku selama ini adalah semu
Dan kini aku menemukan cinta sejati ada dalam dirimu
Kau lah Matahariku, sekaligus Lautanku
Kini... aku mengharapkan kehadiranmu
Ada di sisiku...

DanTie_Cute
Nb : tolong simpan mukenaku. Aku harap itu sebagai persembahanmu kelak...

Ada beberapa ganjalan yang selama ini aku urungkan tuk bertanya langsung ke Mba Danti. Kini ku selayaknya bertanya ke Mbah, apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Selama ini Mba Danti selama ini tu ngapain, Mbah...??? Tanyaku tak sabar menunggu jawaban dari Mbah Sari.
“Begini, Den. Mba Danti itu lagi sedih, dia baru saja ditinggal nikah sama suaminya. Suami yang ia kenal sejak mereka KKN di sini, Den. Mereka nikah baru 5 tahun tapi belum dikaruniai anak”. Tegas Mbah Sari seolah mengharapkanku tuk mengikuti alunan bicaranya mengharapkan Aku tuk mau menerima Mba Danti.
“Cuma gitu aja, Mbah??? Tanyaku heran.
“Namanya Rifqi, dia sekarang menjadi Pengacara di Jakarta. Singkat cerita ketika Dia menangani sebuah kasus investor asing yang berusaha mengambil semua aset-aset perusahaan kliennya yang mengalami pailit” terang Mbah memaksaku tuk terus mendengarkannya...

Suara azan pun mulai berkumandang. Menunjukan hari menjelang sore. Namun aku masih belum mau beranjak meninggalkan cerita yang belum terlihat ujung pucuknya ini.

“Mas Rifqi tergiur dengan tawaran klien, yang ketika itu memang kasus dimenangkan oleh pihak Mas Rifqi. Disitulah kesombongan suami Mba Danti mulai terlihat. Terlebih lagi klien memiliki putri cantik yang baru saja pulang dari Jerman untuk menyelesaikan gelar S1 Ekonomi di sana. Namanya juga lelaki, ga ada yang ga ngiler dapet perusahaan terus ditawarin anak bosnya lagi”. Sejenak Mbah menitikkan air matanya, tak tahan lagi tuk melanjutkan ceritanya...

Akupun bisa menyimpulkan, bahwa semua lelaki itu brengsek.... makanya aku ga suka lelaki (hehehe, menepiskan segala cerita miringku di catatan2 yang lain)...

“Yah, emang laki-laki yang namanya Rifqi itu Brengsek” gumamku dalam hati.
Mmm... kali ini bingung melandaku. Tak terlintas di benakku tuk memiliki pacar atau selebihnya, seorang kaya dari kota. Kini pun aku telah memiliki tambatan hati, gadis berkerudung dari Tasik yang aku kenal 2 tahun lamanya yang telah memikatku. Aku berfikir, belum saatnya aku memikirkan hal itu. Aku baru 22 tahun dan Mba Danti 32 tahun. Jalanku masih panjang, pastilah suatu saat ada Nanang-Nanang yang lain bisa membahagiakan Mba Danti. Selamat berjuang menemukan cinta sejati Mba... kali ini aku belum pantas menerima hal itu. Yang padahal sejatinya lelaki itu mau menerima calon istrinya apa adanya, walau seorang janda pun, asal seiman dan baik hati. Itu sih kata abahku...

“Berhentilah selalu mencari pasangan yang tepat, tapi jadikanlah orang-orang disampingmu adalah orang yang hebat. Karena sering Cinta datang ketika kau lengah tak mengharapkan”. Sejenak kuteringat pesan dari sahabatku yang sempat menghiburku saat aku mengalami kegagalan cinta... hehehe

Lalu ku lipat kembali surat itu. Angin berhembus pelan dan langit pun terlihat mendung. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, memberanikan diri untuk pamit pulang menuju posko KKN ku dengan sepucuk surat dan bungkusan di tanganku....

Selamat jalan hari...
Selamat jalan waktu...
Karena aku tak tau
kapan dan kemana kaukan membawa lahirku..
andai ceritaku adalah debu
dan andai kenanganmu adalah sebuah perahu
mesti tak henti-hentinya berlalu
terimakasih cinta..
terima kasih kau yang telah membanggakanku
Aku bisa hidup karena CintaMu

Nanang_Grandong


Coretan itu aku bacakan ketika acara perpisahan berlangsung. Dan kulihat isyarat menunjuk ke arah mobil yang melaju pelan di samping Pendopo Balai Desa... dan hilang ditengah kegelapan....

Dan aku tahu itu kamu, Mba.... Selamat jalan....
Terima kasih Cinta.... Maafkan Aku...


In the corner of d' stingky’s room
Sunday, May 03, 2009
Nanang_grande




Pemain Cinta

Created by nanang_grande
Based true story in tanah Pasundan

"Apa yang kau cari selama ini, An,,?" lirih pelan tangan Fery menyisir rambut Aneta. Tatapan matanya seolah ingin mengalungkan pilu yang Ia rasakan. Fery menarik nafas. Seraya dengungan nafasnya memperlihatkan kekesalannya.
"Apa salahku hingga kau setega ini terhadapku ?" tegas Fery atas kekesalan yang terpendam selama ini.
Aneta menitikkan air mata, "Maafkan Aku, Mas. Aku..."
"Pstt... Yawdah kita teruskan nanti. Bentar ya..." potong Fery berlalu menuju ke kasir.
Fery memegang erat tangan Aneta. Tak seperti biasanya Fery terlihat begitu gugup. tak lama kedua pasang mata saling bertatapan, Anggukan Aneta mengiyakan isyarat ajakan Fery yang entah kemana Ia akan mengajaknya pergi.
Jalanan mulai sepi. Lampu-lampu kota menerangi 2 motor yang saling beriringan itu. Nampak Aneta masih terisak tangis. Hingga Fery pun membelokkan motornya ke suatu tempat.

"Kenapa seolah-olah mas memaksa aku untuk menerima cinta, Mas..??" , terang Aneta memulai pembicaraan.

"Apa...!!?!" Fery mulai mendekati gadis itu.

Pic by yudith harli sulfan paelongan"Jadi selama ini kamu cuma menganggap aku temen biasa? Ingat, Aneta..!! Di sini kau pernah memberiku bunga, di sini juga~ kau pernah memberiku buah delima berbentuk HATI....dan di sini juga, Kau tak menolak saat Aku MENCIUMMU..Apa itu main-main? Apa kamu anggap itu hanya....", tentu Fery tak kuat lagi meneruskan kata-katanya.

"Udah~cukup, Mas !! seseorang telah berhasil mengisi akuarium hidupku, seseorang telah membuatku bahagia, itu sebabnya aku memilih Dia", Terang perkataan Aneta membuat Fery kaget.

"Okey, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu itu...!!!", fery mengeluarkan foto yang tak lain adalah foto Aneta. Ia mencium foto itu lalu berlalu meninggalkan Aneta sendiri di malam itu. perasaan Fery yang tak menentu kala itu membuatnya bersikap bodoh. hingga Ia tak memperdulikan lagi seorang gadis di tengah malam itu sendiri. Karena Ia pun tak tahu harus berbuat apa lagi.

Good Bye....
andai cinta MAU DIPAKSA
Tentu Tak adil bagiku
Aku tak menyalahkan siapa-siapa

.... Tak lagi bisa berkata
~Fery~


01.29 WIB 26 Juli 2009 @ Umahe Mbaeh

Thursday, October 30, 2014

Angin Berbatu hiu

Created By Nanang_Grande

Hari menjelang sore, suasana sejuk serta pemandangan nan hijau memaksa Bayu yang baru pulang dari kantornya itu duduk di teras rumah kosnya menikmati habisnya hari dalam kesendiriannya. Boneka beruang warna pink terbungkus rapi di samping kakinya. Masih mengenakan pakaian kantornya Ia lantas menyibukkan diri mengeluarkan semua isi tasnya di meja bundar tepat di depan pintu masuk rumahnya. Boneka beruang kecil abu-abu menggantung ramai menghiasi tas kerjanya. Terlintas di pikirannya kembali mengingat masa-masa indahnya dulu waktu Imel memberinya gantungan kunci lucu itu saat masih kuliah 2 tahun lalu.
“Oh.. indahnya....”, seraya senyum manis bibir Bayu seperti malu malaikat melihat tingkah anehnya. Di tengah lika-liku angan-angannya mulai mengalun jauh, Bayu dikagetkan bunyi HP yang ada di saku celananya. Serentak wajah innocent Bayu berubah mengecut.

“Maafin Ade, Mas. Mama ga ngebolehin Ade ke Jogja, sekali lagi maafin Ade, mas. Luph”

Sms dari Imel terang membuat Bayu kecewa. Pandangannya tertuju pada boneka beruang yang baru saja di belinya. Terbayang sudah boneka lucu itu tak jadi menyambut kedatangan kekasih hatinya. Bayu telah berjanji akan membelikan sebuah boneka kalau Ia telah bekerja. Namun karena kelembutan dan kesabaran laki-laki bertampang pas-pasan itu pun akhirnya memakluminya. Malam pun tiba, di kursi sudut ruang tamu, Bayu hanya bertemankan boneka lucu, sesekali Bayu memeluknya.

Mengapa Kesempatan itu serasa tak pernah datang, Beib..??!?

Malam semakin dingin, hingga akhirnya mata Bayu terpejam menuntunnya terlarut dalam indahnya mimpi.
...Pagi mulai menyeruak kelam. Mentari pun perlahan mengulurkan kilauannya. Serasa tak malu akan kicauan burung yang berkicau di pagi yang cerah, Bayu masih terbaring di tempat tidurnya.
“Heh, bangun...!!!”
Terdengar suara yang kontan membuat Bayu terbangun.
“Busyet, ngapain aja lo semalem, Yu? Sorry gw langsung masuk, abis lo ga angkat2 telpon gw, trus tuh pintu ga lo kunci. Udah buruan mandi!, gw tunggu. Dasar kebluk.”,
“Oh, iya iya, tenkyu banget, Nda”, Bayu terlihat gugup, tersadar Nandha teman sekantornya yang tiba-tiba tengah berada di sampingnya itu. Dengan segera Bayu menuju ke kamar mandi, nampaknya waktu yang begitu sempit itu hanya Bayu gunakan sekedar mencuci muka dan segera berpakaian rapi. Nandha hanya tersenyum-senyum melihat tingkah konyol Bayu itu sambil membuka-buka majalah yang ada di ruang tamu.
“Yuk..!!” ajak Bayu telah siap. Bayu mengambil boneka yang masih terbungkus di kursi panjang di ruang tamu itu.

“Ngapain lo bawa-bawa boneka?? Mau jadi cewek, Lo??”, tanya Nandha keheranan sembari memencet dorr lock remote mobilnya.

“Hehe,,,”, Senyum Bayu lagi-lagi membuat Nandha semakin yakin akan kekonyolan sahabatnya itu. Tanpa bertanya lagi, Nandha segera memacu mobilnya.
“Nda, perasaan gw ga enak. Rencana gw si entar sore bis gawe gw mo cabut ke Jakarta. Tapi, tau perasaan kangen gw ma Imel dah ga karuan. Mau ga lo turunin gw di stasiun tugu? gw bolos”, terang Bayu panik seolah ada sesuatu yang mengganggu dengan ketidakjadiannya Imel datang ke Jogja menemuinya di sms Imel kemaren.
“Ah dasar gila, Lo!! Kerja aja belum genap sebulan dah maen bolos aja. Nggak!!!” sahut Nandha tak menghiraukan kepanikan Bayu.
“Tapi kalo gw ke Jakarta ntar sore, gw ga bakalan bisa ikut acara outbond kantor besok. Mending gw bolos sekarang kan dari pada besok. Please, Nda..”, Bayu tetap bersikukuh dengan keinginannya. Muka memelas dan segala rayuannya Ia kerahkan pada sahabatnya itu hingga akhirnya Nandha pun terpaksa mengantarkannya ke stasiun tugu.

“Tengkyu banget, Cinn... Lo bae banget. hehe”, terang Bayu meledek.

“Ni buat Lo, sebagai ungkapan thanks gw kepada sahabat gw yang bae ini,, hehehe” Lanjut Bayu melemparkan sebuah gantungan kunci berbentuk saru yang Ia belinya di Mirota Batik Malioboro.
“Haha Muke Lo bandul kunci. Paling juga Lo ke Jakarta Cuma buat yang kayak beginian ini hahaha”, Nandha pun bergegas meninggalkan Bayu dengan tawa dan raut muka aneh setelah menerima pemberian Bayu itu.

Bayu bergegas menuju ke tiket dan segera menaiki kereta. 9 jam berlalu hingga sampailah Bayu di stasiun Gambir. Heru, Seorang sahabat telah menantinya di pintu keluar. Pertemuan dengan sahabatnya itu membuat hati Bayu semakin terharu setelah sekian lama tak bertemu setelah mereka berpisah karena telah lulus dari kampus.

“Lo abis ini mau ke mana, Yu??”, Tanya Heru sembari menutup pintu mobilnya.
“Gw pengen kerumah Imel, Nyuk. Kayaknya ada sesuatu yang pengen Ia omongin ke gw. Dari pada gw di Jogja kepikiran mulu mending gw samperin aja ke sini” jawab Bayu seolah tak memperdulikan Heru yang keheranan setelah ia menyampaikan maksudnya untuk datang ke Jakarta.
Belum sempat Heru memutar kontak mobilnya, Bayu dikejutkan bunyi Hpnya.

“Mas, Ade pengen ketemu, Mas. Ade sekarang lagi di Gambir mau ke Jogja. Jemput Ade tar sore”
Kontan sms Imel membuat Bayu langsung bergesas keluar dari mobil.

“Imel di dalem, Nyuk. Tunggu ya”. Bayu panik tak percaya dan segera berlari dengan boneka yang masih ditangannya itu memasuki stasiun lagi.

“Tunggu, De.. Mas juga lagi di Gambir. Ade tunggu di cafe. Mas segera kesitu”, Bayu terengah-engah berlari sambil sesekali ia menelfol Imel.

Tapp... gadis cantik telah duduk sendiri di kursi paling pojok. Bayu pun segera memeluknya.
“Mel, kebetulan sekali mas baru nyampe sini” Bayu memeluk erat gadis itu dan setelahnya Ia memberikan boneka yang pernah Ia janjikan itu dulu.

“Makasih banyak, Mas. Tapi Ade harus ngomong ke Mas. Kalo Ade dah ngga bisa gini terus menunggu, Mas. Ade dah di lamar. Sangat disayangkan sekali. Tapi itu semua jawaban ketidak pastian Mas akan hubungan kita. Mas seolah belum cukup mengerti akan pentingnya sebuah hubungan”. Imel terisak dalam tangisnya. Sesuatu yang berat untuk Ia ungkapkan namun itulah kenyataanya. Imel nampaknya tak sanggup lagi menunggu Bayu yang belum bisa mengajaknya ke dalam sebuah hubungan yang lebih serius karena...... (Penulis pun tak sanggup mengatakannya).


Wanita tak hanya butuh cinta

Begitupun Bayu yang tak bisa berkata-kata. Ia pun menyadari semua itu. Mungkin hanya kata Ikhlas yang mampu menghiburnya saat itu. Harus bagaimana lagi, Bayu pun segera meninggalkan Imel yang tak mungkin lagi bersamanya.

Inikah semua jalan yang aku tempuh
Tuk dapatkan semua cintaku
~~~
Terimakasih Cinta
Kau telah menyadarkanku
Kumenunggu dirimu slalu
Kan berada di pelukku
Jangan pernah menangis lalu
Mengharapkanku mati
~Bayu in the end~


(Taken from Nanang Grande’s lyric song~Love actually)


Happy Idul Fitri

In d'jazz nite @ Cafe Lumbung
wait'in 4 d'next train
Saturday, 19th Sept'09

Wednesday, October 22, 2014

Built to Last

Created by Nanang_grande
“…Selamat tinggal masa lalu”…
Klepp…
Ahul menutup keras mengakhiri tulisan di buku diarynya. Sepintas wajahnya terlihat tak berekspresi. Segudang kenangan mengalun pelan meninggalkan suasana hatinya. Yah memang itu, Ahul pun tak mengerti mengapa setiap kerinduannya menusuk keriuhan semua angannya.

Hari itu di Jogja begitu panas. Sesekali Ahul mengelap keringat wajahnya dengan sapu tangan bulu kesayangannya. Buku diary 2008 Ia selipkan dalam jaket biru kotak-kotak yang ia kenakan. Ahul pun segera melangkah menuju gerbong kereta yang akan membawanya ke kota sejuk nian Purwokerto.
Selamat tinggal Jogjaku
Maaf ku tak bisa terus memetik buah kenanganmu selalu
sampai detik ini Kau pun tak bisa membunuhku
Aku tak membencimu
Tapi tolong jangan temani aku dulu
Dan jangan rayu aku
~Ahul~
Sesampainya di stasiun Purwokerto, gadis cantik berkerudung Pink melambai ke arahnya. Ahul menghampirinya.
“Ini buat kamu, Mia”, Sebuah kantong bercorak batik segera Ahul berikan kepada gadis imut itu. “Aku sayang Kamu”, lanjut Ahul menatap mata Mia yang terlihat kaget.
“Ha…?!!”, kontan Mia seolah memang masih belum percaya akan apa yang baru saja Ia dengar itu.
“Aku ngga berharap lebih dari apa yang baru kamu dengar, hanya sebuah ungkapan yang nyata terhadapmu, Mia. Aku sangat merindukanmu”, Ahul memegang tangan Mia dan terus menatap matanya.
“Aku….Aku…”
“Psstt, udah jangan dilanjutkan jika kamu tak sanggup mengatakannya. Apa yang ada dalam benakku hanya sebuah sakit jika ku tak segera mengatakannya”, Ahul mengelus gadis itu.
“Aku ngga lama di sini, hanya untuk bertemu kamu. Kamu cantik…”, lanjut ahul menarik tangan Mia. Nampak senyuman manis Mia membahagiakannya.
Dan,,, Ahul pun segera pamit. Kereta menuju Jakarta telah menantinya. Lambaian mengiringi kepergiannya.
“Cause this is real, and this is good.
It warms the inside just like….”
Ringtone di HPnya sejenak mengalihkan perhatiannya. Sebuah nomor muncul bertuliskan “Mia quh” seolah menari-nari dalam lantunan lagu Melee~Built to Last.
“Klekk”, Hmm…, Ringtone itu telah mati sebelum sempat Ahul mengangkatnya
Selang berapa lama setelah sebuah pesan diterimanya.
“ I Love U too”, sebuah pesan singkat dari Mia yang tentunya membuat Ahul berbunga-bunga. Hingga larutnya malam mengantarkan Ahul menuju Jakarta untuk kehidupan yang lebih baik.
I’ve looked for love in stranger places,
But never found someone like you.
Someone whose smile makes me feel I've been holding back,
And now there's nothing I can't do



Cause you are the sun in my universe,
Considered the best when we've felt the worst
And most of all it's built to last
~Melee~
I Love U, Mia...Ahul Loves U
















Pic by Yudith Harli Sulfan Paelongan
on the way to KOTA @KRL Ekspress, Monday, 14th Sept'09

Monday, October 20, 2014

Cara nonton tivi bening tanpa pusing bayar bulanan

      Selamat pagi siang dan malam, Kawan. Kali ini saya akan sedikit mereview paket yang baru saja dibeli. namanya Xtreamer Set Top Box DVB-T2 and Media Player - Black.

     Bagi yang masih asing dengan nama itu, sebagai gambaran prodak itu adalah receiver chanel televisi. Dimana kondisi khususnya di jakarta yang dimana-mana terdapat gedung tinggi yang pastinya menghalangi penangkapan sinyal televisi dari antena biasa. Receiver ini seperti halnya receiver siaran televisi berlangganan seperti INDOVISI*N, T*P TV dll, hanya saja yang perlu diingat perbedaanya adalah GRATIS alias tanpa bayar bulanan. Sebelumnya saya menggunakan antena dalam yang sepertinya hanya bisa menangkap beberapa siaran televisi, kemudian beralih ke antena luar yang ternyata tidak jauh berbeda hasilnya. Kemudian saya memasang televisi berlangganan selama 2 tahun yang setiap bulannya saya harus membayar 204rb (dikali 24 = Samsung TAB ato apple 5). dan sepertinya mubah menurut saya,karena semahal-mahalnya saya berlangganan siaran televisi dan sebanyak-banyaknya saya memiliki banyak saluran yang bisa ditonton, sepertinya saya lebih sering menonton berita TV ONE, METROTV dan spongesbob di GLOBAL TV. sayang kaann??? sedangkan tayangan lainnya seperti aljazera BBC apalagi, ngga pernah ditonton, seumur2 saya full seharian pas nonton kabar perang di GAZA, itupun bahasa inggris, ngga ngerti dah ngomong apaan.

     Naah, setelah curhat kepada seorang kawan tentang yang merekomendasikan membeli receiver DVB T2, sampai akhirnya saya membelinya.walaupun terjadi sedikit perbedaan pendapat mengenai merk yang kawanku beli adalah merk yang sudah terkenal yakni POLYTR*N, namun karena harganya lumayan yakni sekitar 450rb, saya membeli secara online Xtreamer Set Top Box DVB-T2 and Media Player - Black dengan harga 319rb+8rb ongkir. Lumayan kan,,,???

     Dalam paket menurut saya sudah lengkap jadi tidak perlu membeli komponen lain seperti kabel, colokan dll, terdiri dari receiver box, kabel RF, remote+baterai, kartu garansi dan buku manual ada semua didalam box.

      Dua gambar diatas adalah penerimaan sinyal televisi dengan antena dalam dan antena luar. hasilnya mengecewakan.



CARA PEMASANGAN
     Setelah membeli secara halal, (hahahaa), buka box nya. Melihat yang ada dalam box pun saya kira dengan tanpa membaca buku manual, Anda sudah bisa memasangnya . Saya Yakin Ituuuhhh,,,
1) Siapkan terlebih dahulu :
  • Satu buah receiver,
  • Kabel RF (kabel warna kuning, merah, putih)
  • Remote + Baterai
*terdapat dalam box

2)  Kabel dari antena UHF*
Saya menyarankan menggunakan antena luar UHF, saya sudah mencoba menggunakan antena dalam yang di sambungkan dengan receiver hasilnya bagus sih, cuma di beberapa chanel suka macet-macet. sedangkan ketika disambungkan dengan antena luar hasilnya lancar jaya.
3) Colokkan kabel RF (warna) ke box receiver sesuai warna, dan ujung satunya dihubungkan televisi dan juga disesuaikan dengan warnanya, warna kuning untuk video in dan merah putih untuk audio in.
4)   Colokkan jack antena UHF/antena luar ke box receiver,
5) Sambungkan kabel receiver ke sumber listrik

dengan begitu proses instalasi sudah selesai,

6) Nyalakan televisi, pilih  menu AV seperti saat nonton video. Dan disaan pertama kali menyala dan telah terbubung dengan televisi, muncul permintaan setting dan pencarian siaran secara otomatis. setelah selesai tekan OK. dan hasilnya menurut saya Ajiiiibbbb, tv one, metro tivi bening cling.
 
      Nah coba lihat hasilnya setelah menggunakan Xtreamer Set Top Box DVB-T2 and Media Player - Black. hasilnya maknyus,,,,,, alias saya ngga perlu muter antena nyari sinyal ato bayar mahal setiap bulan.

KEKURANGAN
      Setelah dari tadi membahas mengenai kelebihan, kalau dari segi penayangan menurut saya tidak mengecewakan. kekurangan disini akan saya bahas lebihnya tentang kurang lengkapnya chanel, bisa jadi ada beberapa stasiun tivi tersebut belum membuat jaringan sinyal digital atau receiver ini yang tidak bisa menagkap sinyal. 
Berikut ini adalah list saluran televisi yang bisa di nikmati di daerah saya di kebon jeruk jakarta barat
1)  METROTV
2)  ANTV
3)  SPORT ONE
4)  TV ONE 2
5)  BERITA SATU
6)  BERITA SATU
7)  TRANS 7
8)  TRANS TV
9)  KOMPAS TV
10)TVRI 1 
11) TVRI 2
12) TVRI 3
13) TVRI 4
14) TVRI HD
15) SCTV
16) INDOSIAR
17) O CHANNEL

Siaran Televisi yang tidak ada seperti:
1)  GLOBAL TV
2) MNC Group
3) RCTI

     Sedangkan untuk mengakali siaran tivi yang belum ada tersebut saya kembalikan lagi dengan menggunakan antena satu lagi yakni antena dalam dengan cara memindah saluran AV ke TV , dan sepertinya tidak ada masalah.

     Secara garis besar menurut saya, produk ini rekomended deh, cocok buat kawan-kawan yang pengen menikmati kualitas tivi yang jernih tanpa harus membayar biaya bulanan. Buat temen2 temen yang pengen menambahi tulisan Saya monggo silahkan ditunggu koment pengalamannya baik menggunakan receiver sama seperti saya ataupun merk lain.

Best Regards

Nanang _Grande
20 Oktober 2014





Sunday, October 19, 2014

Aku Tak Buta

Created by nanang_grande

Pic by Ladrina Bagan
Seonggok daging, dan atau beronggok-onggok daging,,

Hmmm, mungkin membayangkan apa yang dihadapannya itu menjadi menu keseharian Bayu. Mungkin terbesit, itu adalah menu keseharian untuk dimakan. Namun Bukan, bukan itu maksudku.
Kali ini Bayu sejenak menatap, menghela nafasnya untuk sekedar menatap jari-jari tangannya yang memucat putih.

"Siapa Aku, dulu?dulu, Aku siapa? Bukan siapa-siapa, dulu"

Lalu, Bayu membungkukkan badannya untuk mengambil pisau yang Ia simpan di rak paling bawah. Telapak tangannya Ia rekatkan pada meja yang ada dihadapannya. Ia tentunya hanya bisa tersenyum melihat beberapa orang yang sedang asik ngobrol, sembari menikmati makanan hasil masakannya.

Iya betul, sekarang Bayu telah memiliki restoran. Dengan beberapa anak buah yang hampir semuanya berasal dari kampungnya.

Sayu-sayu Bayu memandangi wanita berbaju rapi yang sedang menikmati makanannya.
"Sepertinya Aku kenal", gumam Bayu dalam hati.
Bayu kembali meletakkan pisau ke dalam rak, "Mbok, ini tolong!!", Bayu memberikan piring yang hendak Ia sajikan.
Bayu memberanikan melangkah mendekati wanita itu.

"Amel, Kau kah itu?!?",Kontan Bayu mengagetkan wanita yang masih menyisakan makanan yang ada dipiringnya itu.
"Hah?!! Mas Bayu?!!",,,

Seperti hendak berdiri menyambut Bayu, Amel mengepalkan kedua tangannya dihadapannya. Ia tertunduk, lama tak berselang seperti suara isak tangis.

"Udah, Mel. Habiskan dulu makanannya, ya udah aku balik ke belakang lagi yha!!", pamit Bayu berlalu meninggalkan Amel yang masih tertunduk seperti malu, seperti telah menyesali sesuatu.
Bayu pun seperti enggan meninggalkan wanita yang pernah ada dihatinya itu, namun Ia tak ingin terjadi sesuatu nantinya yang membuat pengunjung lainnya justru jadi terganggu. Sejak kejadian di Lubuk Linggau itu, Bayu tak pernah tahu dan memang tak ingin tahu lagi kabar Amel.

Bayu terus melangkah, menuju ruangan kecil yang biasa Ia sebut sebagai ruang tempat Ia mengontrol pekerjaannya sebagai pemilik restoran. Bayu memejamkan matanya, sesekali membuka matanya hanya sekedar memastika apa yang baru saja terjadi.

ketika kau tak sanggup melangkah
hilang arah dalam kesendirian
tiada mentari bagai malam yang kelam
tiada tempat untuk berlabuh

bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

(Maher zein feat fadly~insyaallah)

Bayu menyisingkan lengan kirinya. Masih teringat, ketika Ia memutuskan sehidup semati dengan Amel, guratan pisau yang masih membekas di pangkal lengannya, di balik lengannya pun masih membekas beberapa luka sewaktu Amel hilang akal menyerangnya dengan sebuah pisau. Tiada yang salah, hanya keadaan yang memang membuat mereka akhirnya berpisah.

Tak lama kemudian,,  "Tokk, tokk"
salah satu pekerjanya mengetuk pintu
"Pak, ada cewe yang ingin ketemu, beugh cantiknya, Pak. Mau jadi istri kedua ya?? Hehe", canda Anto, sembari mempersilahkan wanita itu masuk ke ruangan Bayu.

"Maafin Amel, Mas. Mas Bayu ngga dendam sama Amel kan?!", pinta Amel yang masih berdiri di samping pintu yang masih terbuka itu.
"Masuk aja, Mel. Atau kita ke taman aja, Mel. Ngga enak diliat yang lain kalo matamu masih merah gitu. ", ajak Bayu yang seketika itu langsung menutup lengan bajunya mengajak Amel ke taman.

"Wah sekarang Mas Bayu sukses yha! Udah punya restoran sendiri. Istrinya gimana kabar, Mas? Anaknya udah berapa?", tanya Amel yang sebegitu tidak sabarnya ingin tahu keadaan keluarga Bayu.

"Baik, mereka lagi dirumah. Paling bentar lagi aku pulang kok", jawab Bayu yang sepertinya tak ingin cerita begitu banyak.

"Mas bahagia?!!", lanjut Amel, memotong jawaban Bayu.

"Udah lah, Mel. Biarkan aku tenang, Iya aku bahagia"

"Apakah dia lebih cantik dari Aku??"

"Udah lah mel!!", potong Bayu yang seketika itu menghentikan langkahnya menatap tajam Amel.

Tiba-tiba Amel menghentakkan tubuhnya memeluk Bayu. Kontan Bayu langsung menyingkirkan tangan Amel yang tengah memeluknya dengan erat itu.

"Lepaskan!!! Lepas, Mel!!!, AKU TIDAK BUTA, Mel !!!", tegas Bayu sembari menangkis pelukan tangan Amel.

"Itu dulu, Mel. bukan salahku Aku meninggalkanmu. Kau yang memutuskan sendiri memilih Rifki yang menurutmu cinta sejatimu itu. Sekarang biarkan aku bahagia. Jangan kamu sekarang seperti kehilangan arah seperti itu. Bukan tanggung jawabku membahagiakanmu"

"Tapi, Mas. Aku hanya ingin minta maaf"

Segera Amel melepaskan cengkraman tangannya. Berlari meninggalkan Bayu.

Hmmmmm,,, lagi-lagi Bayu hanya bisa menghela nafas. Seolah masih belum menyadari apa yang baru saja Ia hadapi.

Insyaallah
Insyaallah
You'll find the way
Insyaallah
Insyaallah
You'll find the way

Terpaku dalam sebuah bait lirik Maher Zein, Bayu pun berlutut. Seraya tak kuat Ia untuk berdiri. Ia pun menitikkan air mata. Dan, tak lama suara dengungan mobil berlalu, lama-lama menghilang. Sejenak suasana menjadi hening. Bayu hanya berharap, berharap semua kan indah hingga waktunya Ia bisa mengawalinya dengan senyuman.

Dayung menepikan riak
Kala itu air pun menapak dalam
Aku bisa melihat kau begitu tenang
Karena aku tak buta

Bisa saja kau menelanku
Hingga kutak mampu menuju permukaan
Dan aku sadar
Aku tak buta

Bayu

Bayu mengambil HP dalam sakunya, dan lalu pergi sebelum Ia mengucapkan
"Tunggu papa di rumah, I Love You, Mah,,," dalam telfonnya.

Insyaallah
We'll find the way
Insyallah,,,,


~end~


Bayu and the leaf
@sahur

Augst 20th, 2011

Bunga Cinta Lestari

Created by nanang_grande

masih ku ingat selalu
saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
terasa begitu indah
tapi semua berbeda saat kau kenali dirinya
sadarkah dirimu 
diriku terluka saat kau sebut namanya


Sekecup rintikan merdu di sore yang begitu mendung. Seorang lelaki mengenakan kemeja merah nampak santai bersandar di tembok samping pintu kantornya. Memang tak lain sebentar lagi jam pulang bakal mengantarnya untuk segera berkemas, namun Ia masih saja belum beranjak seperti teman seruangannya yang mulai merapikan meja kerjanya.

"Cincau, Boy. lanjut besok fokus ke dunia nyata", Ledek teman seprofesinya yang tiba-tiba menyelinap melewatinya.
"Ah belagak nian kau hanya maen poker mulu haha. oke deh, jangan lupa nanti jalan yo!!!", sahut Ariel yang masih nampak asik memainkan rubik cubenya.
"Siiip,,,!!!", jawab temannya berlalu meninggalkannya.

Jam 4 sore tepat, saatnya Ariel berkemas. hingga akhirnya Ia lah yang paling terakhir pulang diantara teman-temannya.  Sesampainya di pintu mobil, satpam memanggilnya. Sebuah bungkusan dengan secarik kertas bertuliskan "maaf" Ia dapatkan dari satpam itu. Di baliknya Ia dapati sebuah nama bertuliskan "Bunga Cinta Lestari" yang asing menurutnya. Namun stelah membacanya dengan seksama, nama penerimanya betullah memang Dia. Barulah pertama kali ariel menerima bungkusan yang begitu misterius selama ia bekerja yang jauh dari orang-orang yang ia kenal. Segera ia masuk ke mobil dan membuka bungkusan yang masih terbungkus rapi itu. Sebuah boneka yang penuh dengan percikan darah, dan masih pula darah yang di tuliskan pada secarik kertas di bawahnya.
"KAMU NGGA BISA LARI DARI KU", kontan Ariel terkejut, jantungnya berdetak kencang. Tak asing lagi itu semua dari Luna, mantan kekasihnya yang sudah satu tahun yang lalu Ia putus. Boneka tedybear berukuran kecil, mengingatkan tiga tahun lalu ketika Ia memberikan boneka itu pada Luna. Masih dalam keadaan gelisah, Ariel pun segera melaju meninggalkan parkiran kantor yang mulai gelap. Selama perjalanan, Ariel benar-benar tak habis pikir kenapa Vera melakukan itu semua. Ia pikir satu tahun lamanya telah membuat Vera tenang dan melupakannya. Terbayang sudah bagaimana nantinya kalau benar-benar ia bertemu dengan Vera. Dalam keadaan yang benar-benar tidak Ia harapkan itu, HP dalam sakunya bergetar. sebuah nomor yang lagi-lagi tak ia kenal muncul di layar HPnya.
"Ha halo,,,", jawab Ariel gugup, sesekali ia menelan ludahnya. Sejenak Ariel pun diam, seseorang yang menelfonnya belum juga bersuara. Tiba-tiba,,,
"Kamu jahat, teganya Kamu ninggalin Aku,,,!!!", suara cewe yang Ariel yakini itu Luna, mantan kekasihnya itu terisak dalam tangisnya. segera Ariel pun meepi dan menarik tuas rem tangannya. tangannya gemetar, mulutnya pun belum mengeluarkan sepatah kata pun semenjak suara cewe mulai terdengar dala pembicaraan itu.
"Okey, jika kamu masih terus diam dan tak mau bicara, tengkyu,,,(kleepp,,,)", cewe itu mengakhiri telfonnya.
Ariel pun tertunduk, pandangannya mulai kosong, keringatnya mulai bercucuran membasahi baju kerjanya. Diam terpaku, memandangi bungkusan yang sudah terkoyak terbuka di kursi sampingnya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam, dan segera menginjak pedal gas nya untuk segera ia pulang.

Hari mulai gelap, suasana dingin mulai menggerayangi suasana di sore itu. Lampu-lampu jalanan telah mulai nyalanya, tak terlihat orang-orang berada di jalanan, berharap ia hidup di dunia ini tak sendiri. Ariel melaju mobilnya, segera Setelah Ia berhenti sejenak di toko untuk membeli rokok, Ariel pun sampai di rumah.
Akhirnya Ariel pun sedikit lega, perjalanan dari kantornya serasa jauh Ia rasakan tadi. Belum sempat Ia turun dari mobilnya, HPnya berdering, teman sekantornya yang bernama Bayu menelfonnya. Hanya menanyakan kepastiannya dengan ajakan Ariel tadi sewaktu masih di kantor. dan ariel pun mengiyakan untuk keluar makan.
"OK, bentar yha. aku mandi dulu,,,"Lanjut Ariel begitu girang dengan ajakan bayu mengajaknya keluar malam itu.


Hp berdering, satu hingga beberapa kali, ketika Ariel sedang mandi. setelah Ia membuka, nomor yang tak dikenal, yang tak lain seperti nomor yang tadi sore menelfonnya yakni Luna terlihat muncul di resent miss callnya.
"Jemput Aku di bandara, sekarang", sebuah pesan menyusul ketika ia membuka satu per satu list callnya. lagi-lagi Ariel gelisah, tangannya bergetar, jantungnya berdetak keras, sesekali ia mengusap mukanya yang masih basah oleh keringatnya itu, walau Ia baru saja mandi.

"Yu, Sorry banget kita ngga jadi jalan malem ini. Aku harus ke bandara. tq", segera ia berganti pakaian dan pergi setelah tombol "send" ia tujukan kepada Bayu.
Sesampainya di bandara, Seorang wanita yang duduk sendiri membelakangi kerumunan orang-orang yang sibuk di bandara itu terlihat letih. sebuah boneka dalam pelukannya dan sebuah tas ransel exsport di sampingnya, Ariel yakini dialah Luna.
"Luna,,,!!!", Ariel memanggilnya, sontak wanita itu menghampiri ariel dan berlari memeluknya. wanita itu tak henti-hentinya menangis disela Ariel yang masih hanya terdiam.

"Jangan tinggalin Aku, Mas. Aku masih sayang sama mas", suara pelan wanita itu yang masih terisak dalam tangisnya.
"Kenapa baru sekarang?, Kamu tau kan kalo sekarang Aku sudah punya pacar, dan kamu juga!!" terang Ariel menyela wanita itu.
"Ngga, pokonya engga. kita ngga boleh putus. kita pendosa Mas. Kita telah jauh. Apa kita begitu saja melupakannya?", Sentak Luna yang seketika itu membuat orang-orang sekelilingnya tertuju pada mereka. melihat gelagat Vera yang sudah mulai kebawa emosi, segera Ariel memaksa Luna untuk pergi menuju mobilnya.

"Maksud Kamu apa, Na? bukannya keputusan itu kamu yang membuatnya? setelah terang-terangan Kamu menyukai temanku sendiri, teman yang Aku kenalkan padamu?, Justru aku bersyukur kita putus, sekarang Aku punya cewe yang lebih baik, lebih sabar dan mau menerimaku apa adanya. dan Kamu juga sudah punya pacar, Dia", Jawab Ariel membela.

"Ngga, Mas. Itu hanya cara ku untuk menguji Mas. Biar Mas cemburu. Kita ngga boleh putus Mas. ngga boleh, Aku sudah rusak oleh Mas. Enak saja Mas ninggalin Aku..!!!",Luna menangis sambil memeluk erat bonekanya.

"Aaah, alasan! Kamu tu ngga pernah puas, setelah kalu lari dengan laki-laki lain. sekarang Kau lari mengejarku. Apa kamu baru tau kalau lelaki itu brengsek, hingga sekarang kalu mengejarku??!!", Sontan ariel pun terbawa dalam emosinya.

Luna mengamuk, Isi tasnya Ia keluarkan sari persatu di buang ke muka Ariel.
"OK, dari pada Aku tak mendapatkan apa-apa. dan malah justru kamu bisa bahagia dengan yang lain. lebih baik Kau MATI,,!!!", segera Luna mengeluarkan gunting dalam tasnya, lalu Ia tusukkan ke dada Ariel hingga Ariel pun tersungkur. Tak lama kemudian Luna pun pergi meninggalkan Ariel sendiri dalam mobilnya. Ariel yang merintih kesakitan segera mencabut gunting yang masih tertancap cukup dalam di dada kirinya. Darah pun mengalir, segera Ia melepas baju yang telah mulai basah oleh darahnya.

"Yu, tolong samperin Aku di Bandara, Yu. Aku terluka..", Ariel menelfon Bayu. baju yang Ia kenakan tadi Ia gunakan untuk mengelap darah yang membasahi badannya. Matanya melihat ke sekelilingnya, dan Ia dapati Vera sudah tak ada dalam jangkauan pandangannya. Ia pun ikhlas, ia pun sebenarnya tak tau itu salah siapa. Namun, Ariel yakin, itu mungkin balasan atas kesalahan-kesalahannya dahulu. ketika Ia mencintai wanita,dan telah melakukan hal yang memang belum sepantasnya dan ketika itu pula Ia dihianati. Itulah CINTA, ketika 2 peran telah memainkan laganya, dalam cerita takkan tau siapa yang salah dan siapa yang kalah.

 sebingkai foto masih menggantung di langit-langit mobilnya.

"Maafkan Aku, Sayang. aku hanya manusia biasa. Yang hanya mengaharapkan cinta yang tulus dari seorang wanita. Semoga itu Kamu", segera ariel meraih foto itu dan menciumnya.

Malam semakin dingin, Ariel pasrah dalam kesendiriannya menunggu Bayu yang segera menuju ke bandara.

aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku
hanya satu cinta untukmu luar biasa

Yovie & The Nuno – Manusia Biasa (CLB)


Maaf, kutak sempurna, I love You
01.11 Am
14 Sept, 2010

Rindu sialan, merindu Si Alan

Created by nanang_grande

Pic by Ladrina Bagan

“Mendung kalanya menguakkan sebuah kisah yang mana melahirkan sebuah kesetiaan. Ada kalanya mendung itu sebuah berkah, namun tak sedikit pula yang menaruhnya dalam wadah kesedihan.


Penggalan alur kata yang terus mengalir dalam dirinya memberi  makna sebuah ketersenyuman. Itulah Dia, sosok wanita anggun yang menginginkan lembutnya arti kesayangan. Dan bukan karena ia sedang dalam pengejaran kereta cinta dimana sang lelaki tak tau harus turun dimana dan bilang “apa untukMu?”,,, bukan,,, bukan itu.  Satu lagi hal yang terpenting bagi sesosok Dia adalah rasa itu (red, ikhlas). Bukan main bukan? Suatu kokangan terakhir ketika sudah merasa “no no no” walaupun yang tersirat adalah benar. Apakah Kamu tau siapakah Dia wahai, sialan?? Itu Aku!!!


Tau ngga sih loe kalo gw sayang elooooooooooo#*&%(@,,,,,

~Piet, 30 Okt 20..~”

Klepp,,, Byarrrr

Satu lagi buku kecil berenda pinky dengan pita kalkun menghantam jendela kamar sebelum Ia tuliskan dua digit angka terakhir dalam buku diarynya. Serasa aneh baginya, apakah sebuah rasa itu salah kalau diungkapkan dari mulut sosok wanita. Apakah sebatas karena Ia adalah sosok yang hanya bisa menitikkan air mata sehingga tidak boleh mengungkapkan rasa.

“Kenapa bukan kau yang mengatakannya”, gumam Pipit dalam kesendiriannya di kamar yang penuh dengan coretan-coretan satu nama di dindingnya itu.


Cinta yang tulus didalam hatiku
telah bersemi karena Mu
Hati yang suram tlah tiada lagi
telah bersinar karena Mu

 ~Yuni sara-cinta yang tulus~

Sejenak hening, hujan yang masih menggemuruh memaksanya untuk beranjak dari  tempat tidurnya. Jari tangannya terpaku pada sebuah nama di kontak hapenya,seraya ingin sekali berbagi cerita dengan seseorang yang Ia idam-idamkan telah berada di sampingnya saat itu.

“Ujan, Lan. Jalan Yukk”, ajak Pipit dalam pesan singkatnya sesekali mengernyitkan dahinya dengan penuh kekhawatiran.

Namun apa yang terjadi tidaklah seperti apa yang Ia takutkan, tak lama pesan itu pun terbalas “OK”, hingga Pipit pun tersenyum langsung terbayang wajah tampan  si Alan, pujaan hatinya. Kegembiraannya menambah satu coretan lagi di tembok sisi tempat tidurnya. Akhirnya, saat-saat yang ditunggu datang juga.

selang berlalu, buku-buku, sobekan kertas, dan segala pernak-pernik di ruangan itu telah ia rapikan. Baju yang telah lama Ia siapkan, kini dipakainya. Sayu terlihat di balik jendela sebuah mobil sedang menepi di samping pagar rumahnya. Tanpa berpikir panjang segera Pipit dengan perasaan yang masih bercampur aduk itu menghampirinya. Dan lalu pergi,,,

Hujan sepanjang jalan mengisahkan cerita dua insan yang masih dalam sepinya tanpa sebuah kata yang terucap dari mereka berdua. Mungkin terasa aneh, Pipit yakin kalau Alan sudah menduga perasaan yang dirasakannya itu. Jantung berdegub kencang, mulailah bibirnya mengucap “Aku sayang Kamu, Lan”
Mendengar itu Alan kaget seraya menepikan mobilnya di tepian jalan. “Apa Aku tidak salah dengar?”, Tanya Alan sembari menarik tuas rem tangan mobilnya.

“Dan apakah Aku salah jika Aku yang memulainya???”, ucap pipit memalingkan muka ke jendela sampingnya.

“Yang pasti, apakah Kamu yakin dengan ucapanmu? Satu yang Aku ingin tahu, apa yang membuatmu sayang padAku?” lanjut Alan di sela-sela isak Pipit yang mulai terdengar.

“Yang sudah menjadi jawaban janganlah dipertanyakan lagi, sampai akhirnya kau juga tetap dapati jawaban yang sama disetiap pertanyaanmu, kalau Aku sayang Kamu, Lan”

Klekk,,,

Merasa tak sanggup, Pipit pun membuka pintu dan segera berlari di hari yang masih hujan itu. Kontan Alan pun mengejar.

“Apakah Aku tau kalau itu adalah sebuah Tanya?? Aku belum mendengar pertanyaan itu”
Pipit terdiam, tak kuasa menahan tangis. Pelan tangan Alan menyambut genggaman Pipit yang menggigil kedinginan.

“Sekarang, Aku ngga butuh Tanya. Sekarang, mungkin Aku yang hina, dan sekarang Aku yang seharusnya mengatakan bahwa Aku sayang Kamu, Pit. Mau kah Kau menjadi kekasihku??”

Seolah senandung lagu kenangan mulai terngiang di telinga mereka berdua.  Dengan perasaan yang masih belum Ia yakini itu, Ia yakin memang hati lah yang menuntun kehendaknya hingga Ia menemukan sandaran yang memang pantas Ia sandarkan dan memang pantas untuk Ia dapatkan.


Semua yang ada padaMu
Oo.. membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagiMu, untukMu Tuhanku
seluruh hidup dan cintaku

~Yuni sara - cinta yang tulus~

Hujan masih mengguyur sore itu, Nampak wajah sendu Pipit  mulai memudar . Aura kebahagiaan kini terpancar terlihat dari senyum bibirnya. Sebait lirik Yuni sara mengantarkannya dalam keheningan sore di tepian jalan itu. Dan ia pun berbalik memeluk Alan.

“Dasar sialan, Terima kasih, Lan, I Love You,,”

Uuuuuhhh, sesuatu banget deh, cooo cweeeetttttt,,,,,,”

HEART R BROKEN WHEN LOVE R UNSPOKEN

~end~
jkt 2.54am

Thursday, October 16, 2014

Daun Berserakan

Created by Nanang Grande




"Mencintaimu itu mudah, Karena Kau begitu Indah", Gumam Alvin dalam hati, sembari membuka bait-bait profile foto di setiap file picture HP miliknya.

"Namun, apakah Engkau masih seperti yang dulu?"


Entah angin apa yang membulatkan niat Alvin malam ini. Hingga ia bergegas dalam jutaan perasaan maras mengiringi bersama laju motornya. Di setiap kedipan matanya menghalau angin, ketika itu pula membayang wajah Dara yang 30 menit sebelumnya tiba-tiba menelfonnya dengan kabar baiknya sudah menunggunya di taman Monas. Terdengar isak tangis dalam suara yang tak lain adalah gadis yang pernah ada, tentunya dalam hatinya.

Dan itu, sudah 6 tahun yang lalu ketika terakhir kalinya Alvin meminjam sebuah Buku dan tak dapat dikembalikan, karena sang Gadis seperti menghilang. Sampai Akhirnya Alvin menetap di Jakarta, hingga saat ini.

Di tempat dimana orang-orang berlalu lalang, lampu warna-warni menghias di setiap jalan. Alvin menghentikan laju motornya. Tak lama kemudian Ia berjalan menyapu luasnya taman. Diantaranya ada yang ramai dengan nyanyian pada iringan petikan gitar, orang-orang duduk memanjang di kerumunan penjual kopi. Dan ada pula yang hanya duduk bercengkrama dengan selingan tawa di setiap gurauan seseorang yang tengah duduk memegang bunga di samping seorang gadis.

Alvin melanjutkan langkahnya, pandangan tertuju pada gadis yang berdiri di samping pohon di tepian air mancur.

Alvin mengeluarkan HP dalam sakunya.

"Aku dibelakang mu, Dara", segera gadis itu menoleh dan menghampiri Alvin. Nampak senyum manis menyirat di bibir gadis yang mengenakan syal panjang melingkar di lehernya itu.

"Apa kabarmu, Dara", Alvin mengawali ucapan yang sebelumnya hanya saling bertatapan itu. Alvin memegang tangan gadis itu, sesekali Ia mengusap rambut serta membelainya.

"Kamu Cantik, dan Aku tak pernah salah dengan perasaanku hingga saat ini ku ada di hadapanmu, Dara", Alvin memulai ucapannya lagi di depan Dara yang terus menatap kosong.

"Aku tak tau apa arti tatapanmu itu sekarang, Apakah Kamu hendak bercerita panjang? Aku siap mendengarmu, Dara",

Tak lama tangan gadis itu mengayun menghampiri tangan Alvin yang selama itu masih Ia masukkan dalam saku sweaternya. Dan memang seperti hendak mengajaknya ke suatu tempat. Alvin mengikuti langkah Dara menuju tempat ia berdiri tadi, tempat dimana sepertinya Dara hendak menanggalkan cerita.

"Dara, Kamu masih ingat buku ini? Aku dulu pinjam dan tak tau harus dikemanakan. Aku sudah selesai membacanya. Namun nyatanya kamu menghilang",

Alvin mengeluarkan sebuah buku tebal yang Ia bawa dibalik sweaternya.

"Daun Berserakan" karya Palgunadi T. Setyawan  
,

Dan lagi, gadis itu pun hanya diam dan berlalu melangkah mengambil daun kering yang ada di dekat kakinya. Lalu Ia celupkan ke kolam yang tak jauh dari mereka berdiri tadi dan kembali menghampiri Alvin yang terlihat sudah duduk menyandar ke pohon.

"Aku ingin seperti ini, Vin", suara lembut keluar dari bibir gadis cantik itu.

Alvin hanya tersenyum. Sejengkal di hadapannya, Dara menunjukan daun yang sepertinya tetap kering walau sudah ia segarkan kembali dengan segarnya air. Dara meletakkan tas nya dan lalu menyandarkan tubuhnya ke tubuh Alvin yang kontan terasa detakan kencang jantungnya. Dara tetap menaruhkankan tangannya kepada sorotan cahaya lampu taman yang menyelinap di balik dedaunan. Hembusan nafas kencang sangat terasa di balik telinga gadis itu hingga helaian rambut gadis itu mengusap hangat.

"dan Aku ingin seperti daun ini, Vin",

Dara mengerutkan daun yang Ia selipkan diantara jarinya itu. Dan Ia pun memegang erat tangan Alvin hingga Dara pun tertidur dalam Sandaran lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya itu.

     The girl's a fool
     She broke the rule
     She hurt him hard
     This time he will break down
     She's lost his trust
     And so she must
     Know all is lost
     The system has broke down
     Romance has broke down

This boy is crackin' up
This boy has broken down
This boy is crackin' up
This boy has broke down

Old Town ~ The Corrs

Apa yang aku rasakan saat ini, Aku hanya ingin mendengarkan seseorang menyanyikan lagu itu untukku sekarang.

Dan malam pun terasa kian hangat bersamaan dengan belaian lembut tangan Alvin serta pelukan yang memang sudah ia siapkan hanya untuk Dara.












~
Ya Sudahlah, Biarkan mereka berdua suruh melanjutkan cerita ini sendiri. Merekalah yang lebih tau,,,
HEART R BROKEN WHEN LOVE R UNSPOKEN

~end~
jkt 10.04 pm
25 Mei 2013@Taman Monas