Pic by Ladrina Bagan“Mendung kalanya menguakkan sebuah kisah yang mana melahirkan sebuah kesetiaan. Ada kalanya mendung itu sebuah berkah, namun tak sedikit pula yang menaruhnya dalam wadah kesedihan.
Penggalan alur kata yang terus mengalir dalam dirinya memberi makna sebuah ketersenyuman. Itulah Dia, sosok wanita anggun yang menginginkan lembutnya arti kesayangan. Dan bukan karena ia sedang dalam pengejaran kereta cinta dimana sang lelaki tak tau harus turun dimana dan bilang “apa untukMu?”,,, bukan,,, bukan itu. Satu lagi hal yang terpenting bagi sesosok Dia adalah rasa itu (red, ikhlas). Bukan main bukan? Suatu kokangan terakhir ketika sudah merasa “no no no” walaupun yang tersirat adalah benar. Apakah Kamu tau siapakah Dia wahai, sialan?? Itu Aku!!!
Tau ngga sih loe kalo gw sayang elooooooooooo#*&%(@,,,,,
~Piet, 30 Okt 20..~”
Klepp,,, Byarrrr
Satu lagi buku kecil berenda pinky dengan pita kalkun menghantam jendela kamar sebelum Ia tuliskan dua digit angka terakhir dalam buku diarynya. Serasa aneh baginya, apakah sebuah rasa itu salah kalau diungkapkan dari mulut sosok wanita. Apakah sebatas karena Ia adalah sosok yang hanya bisa menitikkan air mata sehingga tidak boleh mengungkapkan rasa.
“Kenapa bukan kau yang mengatakannya”, gumam Pipit dalam kesendiriannya di kamar yang penuh dengan coretan-coretan satu nama di dindingnya itu.
Cinta yang tulus didalam hatiku
telah bersemi karena Mu
Hati yang suram tlah tiada lagi
telah bersinar karena Mu
~Yuni sara-cinta yang tulus~
Sejenak hening, hujan yang masih menggemuruh memaksanya untuk beranjak dari tempat tidurnya. Jari tangannya terpaku pada sebuah nama di kontak hapenya,seraya ingin sekali berbagi cerita dengan seseorang yang Ia idam-idamkan telah berada di sampingnya saat itu.
“Ujan, Lan. Jalan Yukk”, ajak Pipit dalam pesan singkatnya sesekali mengernyitkan dahinya dengan penuh kekhawatiran.
Namun apa yang terjadi tidaklah seperti apa yang Ia takutkan, tak lama pesan itu pun terbalas “OK”, hingga Pipit pun tersenyum langsung terbayang wajah tampan si Alan, pujaan hatinya. Kegembiraannya menambah satu coretan lagi di tembok sisi tempat tidurnya. Akhirnya, saat-saat yang ditunggu datang juga.
selang berlalu, buku-buku, sobekan kertas, dan segala pernak-pernik di ruangan itu telah ia rapikan. Baju yang telah lama Ia siapkan, kini dipakainya. Sayu terlihat di balik jendela sebuah mobil sedang menepi di samping pagar rumahnya. Tanpa berpikir panjang segera Pipit dengan perasaan yang masih bercampur aduk itu menghampirinya. Dan lalu pergi,,,
Hujan sepanjang jalan mengisahkan cerita dua insan yang masih dalam sepinya tanpa sebuah kata yang terucap dari mereka berdua. Mungkin terasa aneh, Pipit yakin kalau Alan sudah menduga perasaan yang dirasakannya itu. Jantung berdegub kencang, mulailah bibirnya mengucap “Aku sayang Kamu, Lan”
Mendengar itu Alan kaget seraya menepikan mobilnya di tepian jalan. “Apa Aku tidak salah dengar?”, Tanya Alan sembari menarik tuas rem tangan mobilnya.
“Dan apakah Aku salah jika Aku yang memulainya???”, ucap pipit memalingkan muka ke jendela sampingnya.
“Yang pasti, apakah Kamu yakin dengan ucapanmu? Satu yang Aku ingin tahu, apa yang membuatmu sayang padAku?” lanjut Alan di sela-sela isak Pipit yang mulai terdengar.
“Yang sudah menjadi jawaban janganlah dipertanyakan lagi, sampai akhirnya kau juga tetap dapati jawaban yang sama disetiap pertanyaanmu, kalau Aku sayang Kamu, Lan”
Klekk,,,
Merasa tak sanggup, Pipit pun membuka pintu dan segera berlari di hari yang masih hujan itu. Kontan Alan pun mengejar.
“Apakah Aku tau kalau itu adalah sebuah Tanya?? Aku belum mendengar pertanyaan itu”
Pipit terdiam, tak kuasa menahan tangis. Pelan tangan Alan menyambut genggaman Pipit yang menggigil kedinginan.
“Sekarang, Aku ngga butuh Tanya. Sekarang, mungkin Aku yang hina, dan sekarang Aku yang seharusnya mengatakan bahwa Aku sayang Kamu, Pit. Mau kah Kau menjadi kekasihku??”
Seolah senandung lagu kenangan mulai terngiang di telinga mereka berdua. Dengan perasaan yang masih belum Ia yakini itu, Ia yakin memang hati lah yang menuntun kehendaknya hingga Ia menemukan sandaran yang memang pantas Ia sandarkan dan memang pantas untuk Ia dapatkan.
Semua yang ada padaMu
Oo.. membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagiMu, untukMu Tuhanku
seluruh hidup dan cintaku
~Yuni sara - cinta yang tulus~
Hujan masih mengguyur sore itu, Nampak wajah sendu Pipit mulai memudar . Aura kebahagiaan kini terpancar terlihat dari senyum bibirnya. Sebait lirik Yuni sara mengantarkannya dalam keheningan sore di tepian jalan itu. Dan ia pun berbalik memeluk Alan.
“Dasar sialan, Terima kasih, Lan, I Love You,,”
Uuuuuhhh, sesuatu banget deh, cooo cweeeetttttt,,,,,,”
HEART R BROKEN WHEN LOVE R UNSPOKEN
~end~
jkt 2.54am
No comments :
Post a Comment