Sunday, October 19, 2014

Bunga Cinta Lestari

Created by nanang_grande

masih ku ingat selalu
saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
terasa begitu indah
tapi semua berbeda saat kau kenali dirinya
sadarkah dirimu 
diriku terluka saat kau sebut namanya


Sekecup rintikan merdu di sore yang begitu mendung. Seorang lelaki mengenakan kemeja merah nampak santai bersandar di tembok samping pintu kantornya. Memang tak lain sebentar lagi jam pulang bakal mengantarnya untuk segera berkemas, namun Ia masih saja belum beranjak seperti teman seruangannya yang mulai merapikan meja kerjanya.

"Cincau, Boy. lanjut besok fokus ke dunia nyata", Ledek teman seprofesinya yang tiba-tiba menyelinap melewatinya.
"Ah belagak nian kau hanya maen poker mulu haha. oke deh, jangan lupa nanti jalan yo!!!", sahut Ariel yang masih nampak asik memainkan rubik cubenya.
"Siiip,,,!!!", jawab temannya berlalu meninggalkannya.

Jam 4 sore tepat, saatnya Ariel berkemas. hingga akhirnya Ia lah yang paling terakhir pulang diantara teman-temannya.  Sesampainya di pintu mobil, satpam memanggilnya. Sebuah bungkusan dengan secarik kertas bertuliskan "maaf" Ia dapatkan dari satpam itu. Di baliknya Ia dapati sebuah nama bertuliskan "Bunga Cinta Lestari" yang asing menurutnya. Namun stelah membacanya dengan seksama, nama penerimanya betullah memang Dia. Barulah pertama kali ariel menerima bungkusan yang begitu misterius selama ia bekerja yang jauh dari orang-orang yang ia kenal. Segera ia masuk ke mobil dan membuka bungkusan yang masih terbungkus rapi itu. Sebuah boneka yang penuh dengan percikan darah, dan masih pula darah yang di tuliskan pada secarik kertas di bawahnya.
"KAMU NGGA BISA LARI DARI KU", kontan Ariel terkejut, jantungnya berdetak kencang. Tak asing lagi itu semua dari Luna, mantan kekasihnya yang sudah satu tahun yang lalu Ia putus. Boneka tedybear berukuran kecil, mengingatkan tiga tahun lalu ketika Ia memberikan boneka itu pada Luna. Masih dalam keadaan gelisah, Ariel pun segera melaju meninggalkan parkiran kantor yang mulai gelap. Selama perjalanan, Ariel benar-benar tak habis pikir kenapa Vera melakukan itu semua. Ia pikir satu tahun lamanya telah membuat Vera tenang dan melupakannya. Terbayang sudah bagaimana nantinya kalau benar-benar ia bertemu dengan Vera. Dalam keadaan yang benar-benar tidak Ia harapkan itu, HP dalam sakunya bergetar. sebuah nomor yang lagi-lagi tak ia kenal muncul di layar HPnya.
"Ha halo,,,", jawab Ariel gugup, sesekali ia menelan ludahnya. Sejenak Ariel pun diam, seseorang yang menelfonnya belum juga bersuara. Tiba-tiba,,,
"Kamu jahat, teganya Kamu ninggalin Aku,,,!!!", suara cewe yang Ariel yakini itu Luna, mantan kekasihnya itu terisak dalam tangisnya. segera Ariel pun meepi dan menarik tuas rem tangannya. tangannya gemetar, mulutnya pun belum mengeluarkan sepatah kata pun semenjak suara cewe mulai terdengar dala pembicaraan itu.
"Okey, jika kamu masih terus diam dan tak mau bicara, tengkyu,,,(kleepp,,,)", cewe itu mengakhiri telfonnya.
Ariel pun tertunduk, pandangannya mulai kosong, keringatnya mulai bercucuran membasahi baju kerjanya. Diam terpaku, memandangi bungkusan yang sudah terkoyak terbuka di kursi sampingnya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam, dan segera menginjak pedal gas nya untuk segera ia pulang.

Hari mulai gelap, suasana dingin mulai menggerayangi suasana di sore itu. Lampu-lampu jalanan telah mulai nyalanya, tak terlihat orang-orang berada di jalanan, berharap ia hidup di dunia ini tak sendiri. Ariel melaju mobilnya, segera Setelah Ia berhenti sejenak di toko untuk membeli rokok, Ariel pun sampai di rumah.
Akhirnya Ariel pun sedikit lega, perjalanan dari kantornya serasa jauh Ia rasakan tadi. Belum sempat Ia turun dari mobilnya, HPnya berdering, teman sekantornya yang bernama Bayu menelfonnya. Hanya menanyakan kepastiannya dengan ajakan Ariel tadi sewaktu masih di kantor. dan ariel pun mengiyakan untuk keluar makan.
"OK, bentar yha. aku mandi dulu,,,"Lanjut Ariel begitu girang dengan ajakan bayu mengajaknya keluar malam itu.


Hp berdering, satu hingga beberapa kali, ketika Ariel sedang mandi. setelah Ia membuka, nomor yang tak dikenal, yang tak lain seperti nomor yang tadi sore menelfonnya yakni Luna terlihat muncul di resent miss callnya.
"Jemput Aku di bandara, sekarang", sebuah pesan menyusul ketika ia membuka satu per satu list callnya. lagi-lagi Ariel gelisah, tangannya bergetar, jantungnya berdetak keras, sesekali ia mengusap mukanya yang masih basah oleh keringatnya itu, walau Ia baru saja mandi.

"Yu, Sorry banget kita ngga jadi jalan malem ini. Aku harus ke bandara. tq", segera ia berganti pakaian dan pergi setelah tombol "send" ia tujukan kepada Bayu.
Sesampainya di bandara, Seorang wanita yang duduk sendiri membelakangi kerumunan orang-orang yang sibuk di bandara itu terlihat letih. sebuah boneka dalam pelukannya dan sebuah tas ransel exsport di sampingnya, Ariel yakini dialah Luna.
"Luna,,,!!!", Ariel memanggilnya, sontak wanita itu menghampiri ariel dan berlari memeluknya. wanita itu tak henti-hentinya menangis disela Ariel yang masih hanya terdiam.

"Jangan tinggalin Aku, Mas. Aku masih sayang sama mas", suara pelan wanita itu yang masih terisak dalam tangisnya.
"Kenapa baru sekarang?, Kamu tau kan kalo sekarang Aku sudah punya pacar, dan kamu juga!!" terang Ariel menyela wanita itu.
"Ngga, pokonya engga. kita ngga boleh putus. kita pendosa Mas. Kita telah jauh. Apa kita begitu saja melupakannya?", Sentak Luna yang seketika itu membuat orang-orang sekelilingnya tertuju pada mereka. melihat gelagat Vera yang sudah mulai kebawa emosi, segera Ariel memaksa Luna untuk pergi menuju mobilnya.

"Maksud Kamu apa, Na? bukannya keputusan itu kamu yang membuatnya? setelah terang-terangan Kamu menyukai temanku sendiri, teman yang Aku kenalkan padamu?, Justru aku bersyukur kita putus, sekarang Aku punya cewe yang lebih baik, lebih sabar dan mau menerimaku apa adanya. dan Kamu juga sudah punya pacar, Dia", Jawab Ariel membela.

"Ngga, Mas. Itu hanya cara ku untuk menguji Mas. Biar Mas cemburu. Kita ngga boleh putus Mas. ngga boleh, Aku sudah rusak oleh Mas. Enak saja Mas ninggalin Aku..!!!",Luna menangis sambil memeluk erat bonekanya.

"Aaah, alasan! Kamu tu ngga pernah puas, setelah kalu lari dengan laki-laki lain. sekarang Kau lari mengejarku. Apa kamu baru tau kalau lelaki itu brengsek, hingga sekarang kalu mengejarku??!!", Sontan ariel pun terbawa dalam emosinya.

Luna mengamuk, Isi tasnya Ia keluarkan sari persatu di buang ke muka Ariel.
"OK, dari pada Aku tak mendapatkan apa-apa. dan malah justru kamu bisa bahagia dengan yang lain. lebih baik Kau MATI,,!!!", segera Luna mengeluarkan gunting dalam tasnya, lalu Ia tusukkan ke dada Ariel hingga Ariel pun tersungkur. Tak lama kemudian Luna pun pergi meninggalkan Ariel sendiri dalam mobilnya. Ariel yang merintih kesakitan segera mencabut gunting yang masih tertancap cukup dalam di dada kirinya. Darah pun mengalir, segera Ia melepas baju yang telah mulai basah oleh darahnya.

"Yu, tolong samperin Aku di Bandara, Yu. Aku terluka..", Ariel menelfon Bayu. baju yang Ia kenakan tadi Ia gunakan untuk mengelap darah yang membasahi badannya. Matanya melihat ke sekelilingnya, dan Ia dapati Vera sudah tak ada dalam jangkauan pandangannya. Ia pun ikhlas, ia pun sebenarnya tak tau itu salah siapa. Namun, Ariel yakin, itu mungkin balasan atas kesalahan-kesalahannya dahulu. ketika Ia mencintai wanita,dan telah melakukan hal yang memang belum sepantasnya dan ketika itu pula Ia dihianati. Itulah CINTA, ketika 2 peran telah memainkan laganya, dalam cerita takkan tau siapa yang salah dan siapa yang kalah.

 sebingkai foto masih menggantung di langit-langit mobilnya.

"Maafkan Aku, Sayang. aku hanya manusia biasa. Yang hanya mengaharapkan cinta yang tulus dari seorang wanita. Semoga itu Kamu", segera ariel meraih foto itu dan menciumnya.

Malam semakin dingin, Ariel pasrah dalam kesendiriannya menunggu Bayu yang segera menuju ke bandara.

aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku
hanya satu cinta untukmu luar biasa

Yovie & The Nuno – Manusia Biasa (CLB)


Maaf, kutak sempurna, I love You
01.11 Am
14 Sept, 2010

No comments :

Post a Comment