Hari menjelang sore, suasana sejuk serta pemandangan nan hijau memaksa Bayu yang baru pulang dari kantornya itu duduk di teras rumah kosnya menikmati habisnya hari dalam kesendiriannya. Boneka beruang warna pink terbungkus rapi di samping kakinya. Masih mengenakan pakaian kantornya Ia lantas menyibukkan diri mengeluarkan semua isi tasnya di meja bundar tepat di depan pintu masuk rumahnya. Boneka beruang kecil abu-abu menggantung ramai menghiasi tas kerjanya. Terlintas di pikirannya kembali mengingat masa-masa indahnya dulu waktu Imel memberinya gantungan kunci lucu itu saat masih kuliah 2 tahun lalu.
“Oh.. indahnya....”, seraya senyum manis bibir Bayu seperti malu malaikat melihat tingkah anehnya. Di tengah lika-liku angan-angannya mulai mengalun jauh, Bayu dikagetkan bunyi HP yang ada di saku celananya. Serentak wajah innocent Bayu berubah mengecut.
“Maafin Ade, Mas. Mama ga ngebolehin Ade ke Jogja, sekali lagi maafin Ade, mas. Luph”
Sms dari Imel terang membuat Bayu kecewa. Pandangannya tertuju pada boneka beruang yang baru saja di belinya. Terbayang sudah boneka lucu itu tak jadi menyambut kedatangan kekasih hatinya. Bayu telah berjanji akan membelikan sebuah boneka kalau Ia telah bekerja. Namun karena kelembutan dan kesabaran laki-laki bertampang pas-pasan itu pun akhirnya memakluminya. Malam pun tiba, di kursi sudut ruang tamu, Bayu hanya bertemankan boneka lucu, sesekali Bayu memeluknya.
Mengapa Kesempatan itu serasa tak pernah datang, Beib..??!?
Malam semakin dingin, hingga akhirnya mata Bayu terpejam menuntunnya terlarut dalam indahnya mimpi.
...Pagi mulai menyeruak kelam. Mentari pun perlahan mengulurkan kilauannya. Serasa tak malu akan kicauan burung yang berkicau di pagi yang cerah, Bayu masih terbaring di tempat tidurnya.
“Heh, bangun...!!!”
Terdengar suara yang kontan membuat Bayu terbangun.
“Busyet, ngapain aja lo semalem, Yu? Sorry gw langsung masuk, abis lo ga angkat2 telpon gw, trus tuh pintu ga lo kunci. Udah buruan mandi!, gw tunggu. Dasar kebluk.”,
“Oh, iya iya, tenkyu banget, Nda”, Bayu terlihat gugup, tersadar Nandha teman sekantornya yang tiba-tiba tengah berada di sampingnya itu. Dengan segera Bayu menuju ke kamar mandi, nampaknya waktu yang begitu sempit itu hanya Bayu gunakan sekedar mencuci muka dan segera berpakaian rapi. Nandha hanya tersenyum-senyum melihat tingkah konyol Bayu itu sambil membuka-buka majalah yang ada di ruang tamu.
“Yuk..!!” ajak Bayu telah siap. Bayu mengambil boneka yang masih terbungkus di kursi panjang di ruang tamu itu.
“Ngapain lo bawa-bawa boneka?? Mau jadi cewek, Lo??”, tanya Nandha keheranan sembari memencet dorr lock remote mobilnya.
“Hehe,,,”, Senyum Bayu lagi-lagi membuat Nandha semakin yakin akan kekonyolan sahabatnya itu. Tanpa bertanya lagi, Nandha segera memacu mobilnya.
“Nda, perasaan gw ga enak. Rencana gw si entar sore bis gawe gw mo cabut ke Jakarta. Tapi, tau perasaan kangen gw ma Imel dah ga karuan. Mau ga lo turunin gw di stasiun tugu? gw bolos”, terang Bayu panik seolah ada sesuatu yang mengganggu dengan ketidakjadiannya Imel datang ke Jogja menemuinya di sms Imel kemaren.
“Ah dasar gila, Lo!! Kerja aja belum genap sebulan dah maen bolos aja. Nggak!!!” sahut Nandha tak menghiraukan kepanikan Bayu.
“Tapi kalo gw ke Jakarta ntar sore, gw ga bakalan bisa ikut acara outbond kantor besok. Mending gw bolos sekarang kan dari pada besok. Please, Nda..”, Bayu tetap bersikukuh dengan keinginannya. Muka memelas dan segala rayuannya Ia kerahkan pada sahabatnya itu hingga akhirnya Nandha pun terpaksa mengantarkannya ke stasiun tugu.
“Tengkyu banget, Cinn... Lo bae banget. hehe”, terang Bayu meledek.
“Ni buat Lo, sebagai ungkapan thanks gw kepada sahabat gw yang bae ini,, hehehe” Lanjut Bayu melemparkan sebuah gantungan kunci berbentuk saru yang Ia belinya di Mirota Batik Malioboro.
“Haha Muke Lo bandul kunci. Paling juga Lo ke Jakarta Cuma buat yang kayak beginian ini hahaha”, Nandha pun bergegas meninggalkan Bayu dengan tawa dan raut muka aneh setelah menerima pemberian Bayu itu.
Bayu bergegas menuju ke tiket dan segera menaiki kereta. 9 jam berlalu hingga sampailah Bayu di stasiun Gambir. Heru, Seorang sahabat telah menantinya di pintu keluar. Pertemuan dengan sahabatnya itu membuat hati Bayu semakin terharu setelah sekian lama tak bertemu setelah mereka berpisah karena telah lulus dari kampus.
“Lo abis ini mau ke mana, Yu??”, Tanya Heru sembari menutup pintu mobilnya.
“Gw pengen kerumah Imel, Nyuk. Kayaknya ada sesuatu yang pengen Ia omongin ke gw. Dari pada gw di Jogja kepikiran mulu mending gw samperin aja ke sini” jawab Bayu seolah tak memperdulikan Heru yang keheranan setelah ia menyampaikan maksudnya untuk datang ke Jakarta.
Belum sempat Heru memutar kontak mobilnya, Bayu dikejutkan bunyi Hpnya.
“Mas, Ade pengen ketemu, Mas. Ade sekarang lagi di Gambir mau ke Jogja. Jemput Ade tar sore”
Kontan sms Imel membuat Bayu langsung bergesas keluar dari mobil.
“Imel di dalem, Nyuk. Tunggu ya”. Bayu panik tak percaya dan segera berlari dengan boneka yang masih ditangannya itu memasuki stasiun lagi.
“Tunggu, De.. Mas juga lagi di Gambir. Ade tunggu di cafe. Mas segera kesitu”, Bayu terengah-engah berlari sambil sesekali ia menelfol Imel.
Tapp... gadis cantik telah duduk sendiri di kursi paling pojok. Bayu pun segera memeluknya.
“Mel, kebetulan sekali mas baru nyampe sini” Bayu memeluk erat gadis itu dan setelahnya Ia memberikan boneka yang pernah Ia janjikan itu dulu.
“Makasih banyak, Mas. Tapi Ade harus ngomong ke Mas. Kalo Ade dah ngga bisa gini terus menunggu, Mas. Ade dah di lamar. Sangat disayangkan sekali. Tapi itu semua jawaban ketidak pastian Mas akan hubungan kita. Mas seolah belum cukup mengerti akan pentingnya sebuah hubungan”. Imel terisak dalam tangisnya. Sesuatu yang berat untuk Ia ungkapkan namun itulah kenyataanya. Imel nampaknya tak sanggup lagi menunggu Bayu yang belum bisa mengajaknya ke dalam sebuah hubungan yang lebih serius karena...... (Penulis pun tak sanggup mengatakannya).
Wanita tak hanya butuh cinta
Begitupun Bayu yang tak bisa berkata-kata. Ia pun menyadari semua itu. Mungkin hanya kata Ikhlas yang mampu menghiburnya saat itu. Harus bagaimana lagi, Bayu pun segera meninggalkan Imel yang tak mungkin lagi bersamanya.
Inikah semua jalan yang aku tempuh
Tuk dapatkan semua cintaku
~~~
Terimakasih Cinta
Kau telah menyadarkanku
Kumenunggu dirimu slalu
Kan berada di pelukku
Jangan pernah menangis lalu
Mengharapkanku mati
~Bayu in the end~
(Taken from Nanang Grande’s lyric song~Love actually)
Happy Idul Fitri

In d'jazz nite @ Cafe Lumbung
wait'in 4 d'next train
Saturday, 19th Sept'09














